BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Negara Indonesia
memiliki kekayaan akan sumber daya alam terutama minyak dan gas bumi. Bahkan,
sektor ini menjadi penyumbang utama dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN). Minyak bumi dan gas alam
adalah sumber daya alam yang bernilai
ekonomis dan memberikan kontribusi yang sangat penting dalam
kehidupan manusia. Teknologi canggih atau modern mempunyai peranan yang sangat
penting dalam perkembangan suatu industri. Setiap industri tidak akan menghasilkan
suatu produk yang maksimal tanpa didukung oleh peralatan memadai. Meskipun
setiap industri telah berusaha untuk menghasilkan produk yang baik, tetap saja
mengalami kendala dalam mengoperasikan suatu mesin produksi, hal ini dapat
terjadi karena faktor alam, faktor peralatan yang digunakan, maupun faktor
manusia itu sendiri. LNG merupakan alternatif energi yang
mempunyai prospek cukup baik dewasa ini, karena hasil pembakarannya memiliki
tingkat polusi yang rendah, efisiensi pembakarannya cukup tinggi sehingga mudah
dikontrol. PT. Arun NGL yang berada di Lhokseumawe, merupakan salah satu bukti kemajuan teknologi saat
ini yang berkembang pada dunia industri khususnya. PT. Arun NGL merupakan salah
satu perusahaan nasional berskala internasional selalu bertekad untuk merespon
terhadap segala kemajuan teknologi yang ada, salah satunya bekerjasama dengan Yokogawa Hokushin Electric Japan dari
Jepang dalam bidang teknologi kontrol yaitu Distributed Control System. Ini
merupakan teknologi pengontrolan yang berbasis computer. Seperti yang
telah diketahui bahwa PT. Arun NGL adalah suatu perusahaan yang
mengolah gas alam cair atau yang disebut LNG dengan menggunakan proses
teknologi “cryogenic”, bukanlah suatu langkah akhir pengembangan teknologi di Indonesia, namun masih banyak persoalan-persoalan untuk pengembangan teknologi yang sangat komplek, sehingga membutuhkan calon-calon teknokrat yang handal untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan tersebut. Teknologi
yang digunakan dalam pencairan gas alam ini
meliputi berbagai proses yang menggunakan peralatan-peralatan industri seperti gas compressor, heat exchanger, pump, boiler serta alat-alat lainnya. Saat ini Indonesia memiliki 4 (empat) buah kilang LNG dengan 8 buah train
terdapat di Bontang, Kalimantan, dan 6 buah train terdapat di Arun,
Lhokseumawe, tetapi pada saat ini hanya 2 train yang beroperasi di PT. Arun
Lhokseumawe yaitu train 4 dan 5 sedangkan train 1,2,3 dan 6 tidak lagi
difungsikan karena adanya keterbatasan bahan baku dan efisiensi produksi.
1.2 Tujuan Kerja Praktek
Praktik kerja lapangan ini
dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pengalaman mengenai dunia kerja nyata
kepada mahasiswa, yang mungkin tidak akan ditemui dibangku kuliah. Secara umum
praktik kerja lapangan ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Mengenalkan
diri pada suasana lingkungan kerja, etos kerja dan disiplin kerja sehingga
dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai dunia kerja sebagai bekal
sebelum memasuki dunia kerja itu sendiri.
2. Mengaplikasikan
ilmu yang diperoleh diperguruan tinggi dengan kondisi real didunia industri.
3. Memperoleh
wawasan yang baik tentang teknologi dan penerapannya dilapangan kerja, terutama
di dunia industri.
4. Mengembangkan
kreativitas dan inovasi mahasiswa, terutama dalam bidang pengolahan gas alam
cair.
5. Memperkenalkan
kepada mahasiswa tentang pentingnya keselamatan (safety) dan disiplin waktu
dalam melaksanakan tugas, dimana pengalaman tersebut nantinya akan menjadi
bekal bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.
1.3 Metodologi
Penulisan
Metodologi penulisan
yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.
Studi
ke perpustakaan untuk mempelajari buku referensi dan manual yang ada.
b.
Bertanya langsung kepada engineer,
karyawan di T & ES
Laboratory dan operator dimain control room serta MCR.
c.
Studi langsung ke lapangan.
d.
Serta
konsultasi langsung dengan mentor dan pembimbing.
1.4 Manfaat Kerja Prktek
Praktik kerja lapangan ini diharapkan
dapat menambah pengetahuan mahasiswa mengenai industri gas alam cair dan mempersiapkan diri
untuk bersaing di dunia kerja serta menjalin kerjasama yang baik antara
perguruan tinggi dengan pihak perusahaan.
BAB II
PROFIL PT ARUN
2.1 Uraian umum
Keberhasilan
PT.Arun NGL selain telah terkenal luas sebagai perusahaan penghasil gas alam
terbesar juga memiliki reputasi dibidang keselamatan, kehandalan kilang dan
kemampuan sumber daya manusianya. Berbagai penghargaan bidang keselamatan kerja
telah diterima dari dalam maupun luar negeri, antara lain dari British Safety
Council, National Safety Council USA, American Petroleum Institute USA,
Kementerian Tenaga Kerja & Transmigrasi dan Kementrian Lingkungan Hidup.
Kilang LNG Arun memiliki tingkat
kehandalan diatas 98% sehingga menjadi salah satu kilang LNG terhandal di
dunia. Dalam bidang pengembangan SDM PT Arun NGL sudah berhasil mendidik para
pekerjanya menjadi aset SDM nasional yang berharga, sehingga lebih dari 200
karyawan PT. Arun NGL kini bekerja di industri minyak dan gas di berbagai
negara belahan dunia.
Sampai akhir tahun 2012 PT. Arun NGL telah mengolah, memproduksi
dan mengapalkan LNG sebanyak 4.231 kapal setara dengan 235.445.987 ton dan kondensat sebanyak 1.868 kapal atau
756.244.179 Barel. Sedangkan LPG mencapai 14.5 juta ton dan berhenti produksi
pada bulan oktober 2000.
2.1.1
Sejarah Singkat PT. Arun NGL
Pada
tahun 1971 Mobil Oil Inc. (sekarang Exxon mobil oil Indonesia) menemukan sumur
pertama cadangan gas alam di Desa Arun yang berlokasi ± 30 km di sebelah timur Lhokseumawe. Oleh
karena itu, nama desa ini diabadikan sebagai nama pabrik yang telah dikenal
dunia internasional sebagai penghasil gas lam cair terbesar, yaitu PT. Arun
NGL. Pada saat itu diperkirakan cadangan gas alam Arun dapat menyuplai 6 Train
plant LNG untuk 20 tahun. Atas kemampuan ini, Pertamina dan Mobil Oil Indonesia
Inc. mulai mengembangkan program produksi, pencairan, pengiriman dan penjualan
LNG.
PT
Arun NGL merupakan suatu perusahaan dengan menggunakan system perusahaan yang berbentuk persero dengan pembagian saham
operasi sebagai berikut:
1. Pertamina (55%)
2. Mobil Oil Indonesia Inc. (30%)
3. JILCO
Japan Indonesia LNG Co.
(15%)
Tetapi
dengan perjanjian, semua set yang dimiliki oleh PT. Arun NGL merupakan milik
pertamina. Dalam melaksanakan pembangunan LNG, pilihan jatuh pada Bachtel Inc, mengingat pengalamannya
baik dalam pembangunan kilang LNG maupun proyek-proyek besar lainnya yang
terbesar diseluruh dunia.
Untuk
proses pencairan gas, dipilih system air produk dan chemical incorporation,
mengingat system tersebut merupakan suatu system yang telah teruji. Pekerjaan
engineering dan perincian perkiraan biaya, dilaksanakan pada bulan januari 1974
di san Francisco kemudian di London dan di Jakarta. Kesibukan-kesibukan
sehubungan dengan pembangunan sudah terasa sejak awal januari 1974, sedangkan
alat dan bahan konstruksi mulai berdatangan awal 1975.
Dalam
rangka pembangunan proyek, Pertamina membentuk suatu “Task “ yang merupakan gabungan antara Pertamina dan Mobil Oil Indonesia. Tujuan utama adalah
melaksanakan pengawasan mulai dari perencanaan sampai selesainya proyek.
2.1.2 Lapangan Gas Arun
Lapangan
gas Arun dikenalkan dan dikelola oleh EMOI ( Exxon Mobil Oil Indonesia), yang bertindak sebagai kontraktor bagi
hasil pertamina. Lapangan Arun ini ditemukan di daerah blok B di daerah
perkampungan Arun.
Pada
saat itu diperkirakan terdapat cadangan gas alam yang terletak diantara
celah-celah batu kapur sebanyak 17 trilyun
cuft yang terbentang pada daerah yang berukuran panjang 18,5 x 5 Km dan
mempunyai kedalaman 2882 m dengan tekanan sebesar 499 kg/cm2 dan
temperature 177 0C. Dengan cadangan gas alam sebesar itu maka PT.
Arun NGL mampu mengoperasikan 6 train
pencairan gas alam paling sedikit selama 20 tahun.
Ladang
gas PT. Arun NGL ini dibagi menjadi 4 stasiun pengumpul yang disebut Cluster,
yang masing-masing mempunyai luas ± 6 hektar (ha), ditambah denagn fasilitas
pengontrol dan pembangunan lainnya yang disebut Point A melalui dua buah train
pemisah yang dipasang disetiap cluster, hidrokarbon tersebut dapat dipisahkan
menjadi kondensat dan gas. Gas kondensat dipisahkan diladang Arun kemudian
gas-gas tersebut dialirkan melalui pipa 42” dan kondensat melalui pipa 20”.
Keduanya dikirim ke kilang LNG sejauh 30 km.
Gambar 2.1 Lokasi Kilang PT. Arun NGL
Setiap
train terdiri dari Fin-fan cooler, Gas to gasheat exchanger , 3 tingkat drum pemisah, 2 unit pompa
kondensat, dan Reinjection Compressor(
1 buah di Cluster II dan 2 buah di cluster III).
Kapasitas
setiap cluster adalah 600 mega million
standart cubic feet ( MMSCFD), dengan
kapasitas maksimal adalah 750 MMSCFD, yang akan menghasilkan 566 MMSCFD gas
ditambah dengan 37100 barrel per day
(bpd) kondensat. Sampai saat ini, PT.Arun mempunyai 6 buah train pencairan gas
alam dan yang beroperai saat ini 2,5 train
yang dilengkapi dengan unit pemisah gas dan kondensat, pemurnian gas,
penyimpanan serta dibantu dengan unit-unit utilitas.
Masing-masing
train pencairan gas alam mengolah 282 MMSCFD gas untuk menghasilkan 9500 m3/hari
LNG (Pada 100% kapasitas desain ),
namun dengan beberapa modifikasi dan plant
test masing-masing train mampu
beroperasi rata-rata pada kapasitas 115-117 %.
Gambar 2.2 Pabrik PT. Arun LNG
2.1.3 Kilang LNG
Kilang
LNG Arun meliputi daerah seluas 271 Ha (92,5) Km2. Dua buah
pelabuhan untuk loading LNG dengan bobot
95.000 death weight ton (DWT) kapal LNG dengan kedalaman 14 meter (diukur pada
air surut), panjang 1200 meter, lebar 350 meter dengan jalan masuk sebesar 50
meter.
Khusus
untuk kondensat dilengkapi dengan dua
saran loading yaitu :
1.
Single Point Mooring (SPM) untuk ukuran
kapal 40.000-280.000 DWT
2.
Multi Buoy Mooring (MBM) untuk ukuran kapal 30.000-100.000 DWT
Sesampainya
gas di unit 20 kemudian gas dialirkan ke unit selanjutnya untuk diolah menjadi
produk dengan kualitas yang dikehendaki. Gas diolah diproses II dan III yaitu
dimurnikan dari senyawa-senyawa sulfide
dan karbon dioksida. Sehingga diperoleh tiga unsur gas alam yang paling ringan
yaitu metana, ethane, dan sedikit propane yang dicairkan menjadi LNG.
2.1.4
Hasil-Hasil
Produksi Kilang
Kondensat
yang dihasilkan sebagian besar diekspor ke Amerika pantai barat, Jepang,
Singapura dan New Zealand melalui pelabuhan. LNG diangkut ke terminal pembeli
di Jepang dengan menggunakan kapal tanker yang dibuat khusus untuk pengangkutan
LNG. Kapal tanker ini diperoleh pertamina dari Burma Gas Transport Ltd, atas
dasar kontak selama 10 tahun. Kapal-kapal ini dibuat oleh Quicy Ship Building.
LPG
adalah singkatan dari Liquifed Petroleum Gas, Yang diartikan gas dari hasil penyulingan Crude Oil yang dicairkan.
LPG ini diproduksikan dengan pertimbangan, untuk memanfaatkan unsur-unsur
Propana dan Butana sebagai unsur yang mempunyai nilai jual relatif tinggi.
2.1.5 Perkembangan PT Arun NGL
Kilang
Arun berada di daerah seluas 92,5 km2. Hingga saat ini PT Arun NGL
sudah memiliki 6 train pencairan gas alam dengan produksi 57.000 m3/hari
LNG, tetapi sekarang hanya train 1 yang masih beroperasi yaitu train 5,
sedangkan train 4 hanya melakukan sirkulasi. Train-train ini dilengkapi dengan
unit-unit pemisah gas dan kondensat, pemurnian gas, pencairan, penyimpanan
serta dibantu dengan unit-unit penunjang.
Keenam train ini dibangun secara
bertahap, tahanpan pembangunan operasi masing-masing train dibagi tiga, yaitu:
a. Arun Project I
Proyek
ini meliputi pembangunan train 1,2 dan 3 yang dibangun oleh kontraktor utama
Bechtel Inc. Dimulai pada tahun 1974 dan selesai akhir tahun 1978. Pengapalan
pertama LNG ditujukan ke Jepang bagian barat yang dilakukan pada tanggal 4
Oktober 1978.
b.
Arun
Project II
Proyek
ini merupakan pengembangan dari Arun Project I yang meliputi pembangunan train
4 dan 5 yang dilakukan oleh kontraktor utama Chiyoda Chemical Engineering Corp.
Bekerja sama dengan Mitsubishi Corp. dan PT. Purna Bina Indonesia. Proyek mulai
dikontruksi awal bulan Februari 1982 dan selesai pada akhir tahun 1983. Pada
Desember 1983 dilakukan pengapalan LNG ke Jepang bagian barat.
c.
Arun
Project III
Proyek
ini juga merupakan pengembangan dari proyek-proyek sebelumnya. Proyek ini
membangun train 6 yang dilakukan oleh kontraktor utama JGC Group. Kontruksi
dimulai awal November 1984 dan selesai November 1986. Ini merupakan realisasi
kontrak jual dengan Korea Selatan. Pada tanggal 21 Oktober 1986, pengapalan LNG
pertama ke Korea Selatan.
Pada awal beroperasinya, kilang
Arun hanya memproduksi LNG yang mengandung komponen dominan metana (CH4)
dan sedikit etana (C2H6) serta fraksi berat lainnya yang
dimanfaatkan sebagai media pendingin kilang, juga menghasilkan kondensat yang
merupakan hasil sampingan dari pengolahan fraksi berat pada gas alam yang
meliputi proses dalam produksi LNG.
Sebagai langkah perluasan produksi
dan pengembangan usaha, PT. Arun NGL melakukan diverifikasi produk dengan
memanfaatkan unsur-unsur propana dan butana yang mempunyai nilai lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai jual kondensat yang merupakan hasil pembuangan kedua
unsur tersebut, sehingga diharapkan dapat menambah devisa negara disamping
produksi utama. Kemudian dilakukan studi dan penelitian terhadap kilang dan
komposisi gas alam agar diverifikasi produk yang dilakukan tidak mengganggu
mutu dan jumlah produksi LNG serta suplai media pendingin untuk kilang. Dengan
hasil penelitian yang positif maka dibuat master plant pembangunan kilang LPG
antara pertamina dengan para konsumen dari Jepang pada tanggal 15 Juli 1986.
Pembangunan kilang LPG dimulai pada tanggal 24 Februari 1987 berdasarkan kontrak yang telah
disepakati Pertamina dengan JGC sebagai kontraktor utama di bawah supervisi
PLLP (Pertamina LNG-LPG) dan pembangunannya tetap berdampingan dengan kilang
LNG yang sudah ada, dimana pembangunan dilakukan dalam 3 tahap. Pembangunan
tahap pertama dimulai akhir Februari 1987 dan selesai bulan Maret 1988. Tahap
kedua selesai bulan Oktober 1988 dan tahap ketiga selesai pada bulan Desember
1988. Pengapalan pertama produk LPG dilakukan pada tanggal 2 Agustus 1988 ke
negara tujuan Jepang. Namun sejak tahun 1999, PT. Arun NGL tidak lagi
memproduksi LPG, disebabkan karena jumlah cadangan gas alam yang semakin
menurun. Sebagai upaya mempertahankan produksi maka diupayakan pencarian sumber
gas baru seperti Pase dan Sulfur Recovery Unit (SRU).
Salah satu sumber gas alam baru
tersebut adalah sumber gas alam lepas pantai di ladang SRU yang terletak di
Selat Malaka
107,6 km (68 mil) dari lokasi kilang Arun
Blang Lancang. Ladang gas alam SRU memiliki luas wilayah sebesar 27500 Ha dan
berada pada kedalaman laut
350 ft (106,68 m).
Pada tahun 1998 dilakukan proyek
pembangunan SRU “A” yang meliputi unit pengolahan gas guna memenuhi spesifikasi
bahan baku yang sesuai dengan persyaratan proses pencarian gas alam yang sudah
ada di kilang Arun. Fasilitas ini dibangun untuk mengolah 450 MMSCFD gas alam
dari platform offshore sebagai tambahan bahan baku gas alam dari ladang Arun di
Lhoksukon yang semakin berkurang.
Komposisi gas alam dari SRU
mengandung kadar CO2 dan H2S yang sangat
tinggi masing-masing sekitar 33% CO2 dan 1,4% H2S yang sangat tinggi
dalam gas umpan dari ladang SRU maka perlu digunakan teknologi terbaik yang
tersedia saat ini dan biasa disebut Best Available Control Technology (BACT)
agar tidak menimbulkan pencemaran.
2.2 Struktur Organisasi PT Arun NGL
PT.Arun
NGL pada saat ini masih dalam proses perubahan yakni proses restrukturisasi
organisasi melalui Work Process Re-engineering. Pada saat ini kegiatan program
perubahan terhadap organisasi yang lama melibatkan pihak-pihak yang terkait
seperti Cambridge Management Consulting, Manager dan Superintendent, dan Task
Force, sebelum organisasi baru. Berdasarkan prinsip tersebut dan penyederhanaan
proses kerja, organisasi PT.Arun NGL yang baru dikembangkan.
Pimpinan tertinggi organisasi PT.Arun
NGL adalah President Director (PD) yang berkantor di Jakarta. Untuk Plant site
dipimpin oleh Vice President Director (VPD) yang bertanggung jawab kepada PD.
VPD PT Arun NGL membawahi:
·
Vice
President Operation & Maintenance
·
Vice
President General Services
·
Relation
and Legal Manager
·
Finance
and Accounting Manager
·
Internal
Audit Manager
2.2.1
Operation & Maintenance Division
Tugas
utama divisi ini ialah mengelola gas alam menjadi gas alam cair (LNG).
Merencanakan produk LNG dan kondensat. Menyimpan LNG dan kondensat, mengapalkan
ketujuan serta mencegah terjadinya kerugian perusahaan. Divisi ini membawahi
empat seksi yaitu seksi LNG, seksi SRU (Sulfur Recovery Unit), seksi FSHE (Fire
Safety Health Environmental) dan seksi Off-Plot dan Marine.
2.2.2
General Services Division
Divisi ini bertanggung jawab melakukan pemeliharaan sarana
dan prasarana yang terkait dengan pemprosesan dari gas alam cair (LNG) dan
kehidupan keluarga diperumahan perusahaan. Divisi ini membawahi empat seksi
yaitu seksi FSS (Facilitiees Support and Security), seksi Supply Chain, seksi T
& ES dan seksi IT.
2.2.3
Relation and Legal Section
Seksi ini menggemban
tugas utama untuk memberikan pelayanan dalam bidang kepegawaian, fasilitas,
sarana dan prasarana kerja. Seksi ini bertugas mendukung pelaksanaan tugas
seksi lain dengan menyediakan sumber daya manusia yang diperlukan.
Seksi ini juga bertugas menangani
hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat, mengkomunikasikan
kebijakan dan kegiatan PT. Arun NGL kepada masyarakat melalui media cetak dan
elektronik. Selain itu, juga menangani tamu-tamu perusahaan yang berkunjung ke
PT. Arun NGL.
2.2.4
Finance
and Accounting Section
Seksi
ini bertugas menangani administrasi keuangan perusahaan seperti membayar
invoice, gaji pegawai dan tunjangan-tunjangan. Seksi ini juga menangani
pembayaran pajak perusahaan dari pegawai dan membuat laporan setiap bulan dan
akhir tahun.
2.2.5
Internal
Audit Section
Seksi
ini bertanggung jawab untuk memeriksa aliran keuangan dan kewajaran dalam
pemakaian setiap aset atau harta benda milik perusahaan yang dipakai untuk
keperluan proses di kilang maupun keperluan administrasi dikantor PT.Arun NGL.
Secara struktur organisasi Internal Audit dibawah PD tapi karena seksi ini
berkantor di Plant Site maka secara pelaporan dan pengawasan tetap di bawah
VPD. Organisasi General Auditor di bawah PD tapi karena seksi ini berkantor di
Plant Site maka secara pelaporan dan pengawasan tetap di bawah VPD.
2.3 Kondisi PT Arun NGL Terkini
PT.Arun NGL merupakan suatu
perusahaan yang mengelola gas alam cair (LNG) dan juga kondensat sebagai produk
sampingan. LNG (Liquified Natural Gas) berarti gas alam yang dicairkan. Prinsip
utama dari pencairan gas alam ini adalah menurunkan suhu gas dari 32
menjadi 160
dengan proses pendinginan dan ekspansi pada
temperatur yang rendah sekali yang disebut dengan cryogenic temperatur yaitu -160
pada tekan 1 atm.
Tujuan dari pencairan ini adalah untuk
mempertinggi efisiensi pengangkutan dan penyimpanan karena volume gas sebelum
dan sesudah dicairkan adalah 630 : 1 artinya kita akan mendapatkan 1 cu.ft LNG
jika kita mencairkan gas alam sebanyak 630 cu.ft batasan komposisi LNG itu
didomonasi oleh metana dan sedikit etana serta propana.
Disamping memproduksi LNG sebagai
produk utama, PT Arun NGL juga menghasilkan kondensat sebagai produk sampingan
berupa fraksi-fraksi hidrokarbon yang terikut bersama dengan gas alam.
Kondensat yang diproduksi harus mempunyai persyaratan dan spesifikasi yang
telah ditentukan yaitu RVP (Rate Vapor Pressure) maksimum 13 psig pada
temperatur 100
dengan spesifik gravity 0,760 (54
PI).
Dari
enam buah train yang dimiliki oleh PT.Arun NGL, saat ini hanya dua train saja
yang bekerja yaitu train nomor 4 dan 5. Hal ini dilakukan untuk penghematan
bahan bakar dan memperkecil biaya produksi. Train yang masih berproduksi secara
maksimal adalah train 5 sedangkan train 4 hanya sebagai sirkulasi hasil
produksi dari train 5 adalah 4,212,07 Btu/M3.
BAB III
KILANG
LNG ARUN SECARA UMUM
Liquefied Natural Gas atau yang biasa disingkat LNG merupakan gas alam yang
dicairkan. Prinsip dasar dari proses pencairan gas alam adalah untuk menurunkan
suhu gas dari 32oC menjadi -162oC. Proses pencairan gas
alam ini dilakukan dengan cara penurunan suhu gas dengan proses pendinginan dan
proses ekspansi pada temperatur yang sangat rendah yang dikenal dengan proses cryogenic.
Pada tekanan atmosfer, suhu didih produk LNG jauh dibawah suhu beku air, yaitu
-162 oC. Pada kondisi ini, satu satuan volume LNG dibentuk dari
sekitar 630 satuan volume gas-nya (1:630).
Tujuan pencairan gas alam adalah untuk mempermudah
pengangkutan ke tempat-tempat yang jauh, karena perbandingan gasnya 630 : 1.
Artinya bila gas sejumlah 630 m3 maka setelah dicairkan volumenya
akan menjadi 1 m3 cairan LNG. Dengan demikian dapat menghemat
pemakaian ruang dan juga dapat mempertinggi efisiensi pengangkutan dan
penyimpanan.
Dahulu pemakaian gas alam sebagai salah satu sumber energi masih belum
mendapat perhatian penuh karena kesulitan untuk mengangkut dan menyimpan gas
itu sendiri. Orang dulunya berfikir bahwa gas alam hanya dapat dipakai oleh
konsumen jika konsumen tersebut memiliki pipa yang di desain khusus untuk
penyaluran gas alam dari pabrik. Disamping itu gas alam yang sangat sulit untuk
diangkut ke tempat-tempat terpencil dan jauh. Seiring perkembangan zaman dan
teknologi yang terus canggih, berbagai kendala untuk pengangkutan dan
penyimpanan gas kini dapat diatasi dengan baik. Beberapa
kelebihan yang dimiliki oleh LNG adalah :
-
sifatnya
yang hampir tidak mengakibatkan polusi udara
-
tidak beracun
-
aman
-
lebih ringan dari udara
-
mempunyai nilai bakar yang cukup tinggi
3.1
Komposisi feed gas (gas umpan) kilang Arun
Komposisi feed gas LNG kilang PT.Arun
NGL., dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel
3.1 Komposisi feed gas proses LNG
Komposisi
|
%
Mol
|
N2
|
0,196
|
C1
|
70,072
|
CO2
|
23,828
|
C2
|
3,641
|
C3
|
1,168
|
i - C4H10
|
0,281
|
n - C4H10
|
0,333
|
i - C5H12
|
0,176
|
n - C5H12
|
0,109
|
nC6+
|
0,196
|
Total
|
100,000
|
Sumber
: General Services Laboratory, PT. Arun NGL (Juni 2014)
Komponen-komponen seperti CO2, H2S
dan merkuri disebut komponen-komponen impuritis, yaitu komponen/senyawa yang
tidak diharapkan. Ketiga komponen impuritis tersebut, mempunyai suhu beku lebih
tinggi dari suhu cair methane (produk LNG). Sehingga dapat mengganggu proses
pencairan dan merusak peralatan proses. Selain itu, merkuri sangat korosif
terhadap aluminium, yaitu material/bahan dominan pada peralatan-peralatan
proses pencairan. Dengan komposisi yang sedemikian, maka perlu adanya suatu
proses pemurnian gas sebelum masuk ke proses pencairan.
3.2 komposisi feed gas dari SRU plant
Komposisi feed gas (sale gas)
dari SRU plant adalah seperti tabel berikut ini.
Tabel 3.2 Komposisi feed gas
(sales gas) dari SRU plant
Komposisi
|
Mol %
|
Heksana plus
|
0,119
|
Nitrogen
|
0,959
|
Metana
|
69,870
|
Carbondioksida
|
25,004
|
Etana
|
2,903
|
Hidrogen Sulfida
|
0,039
|
Propane
|
0,719
|
Iso-Butana
|
0,125
|
N-Butana
|
0,125
|
Iso-Pentana
|
0,084
|
N-Pentana
|
0,054
|
Sumber
: General Services Laboratory, PT. Arun NGL (Juni 2014)
3.3 Komposisi Kondensat
PT. Arun NGL selain memproduksi LNG sebagai produk utama, juga menghasilkan
produk sampingan yang terdiri dari fraksi-fraksi hydrocarbon berat yang
terikut bersama-sama dengan gas alam dari sumber ladang gas Arun. Produk
samping ini kita kenal dengan nama kondensat. Kondensat juga bisa menjadi
alternatif energi yang memiliki prospek cukup baik dewasa ini.
Kondensat yang diproduksi harus memenuhi persyaratan dan
spesifikasi yang telah ditentukan yaitu memiliki Rate Vapor Pressure (RVP)
maksimum 13 psi pada temperatur 100oF dengan specific gravity
0,76 (54o API).
Kondensat
ini umumnya di ekspor ke negara-negara seperti Jepang, Singapura, Amerika,
Australia, Perancis dan Selandia Baru. Di negara-negara tersebut, kondensat digunakan
sebagai bahan baku untuk industri petrokimia yang juga berguna sebagai polimer,
plastik, pelarut atau akan diolah kembali pada kilang minyak untuk dijadikan
sebagai bahan bakar minyak. Adapun
kondensat analysis dapat dilihat pada Tabel 3.3
Tabel
3.3 Kondensat Analysis
Parameter
|
Nilai
|
SG
|
0,7538
|
API 600F
|
56,2
|
Sulfur WT %
|
0,02
|
BS & W
|
NIL
|
RVP 1000F, Psi
|
8,7
|
Sumber
: General Services Laboratory, PT. Arun NGL (Juni 2014)
3.4
Spesifikasi komposisi produk LNG
Tabel 3.4 Spesifikasi komposisi produk LNG
Komposisi
|
% Mol
|
N2
|
0,035
|
CH4
|
89,587
|
CO2
|
0,000
|
C2H6
|
7,197
|
C3H8
|
2,175
|
i - C4H10
|
0,517
|
n - C4H10
|
0,485
|
i - C5H12
|
0,004
|
n - C5H12
|
0,000
|
Total
|
100,000
|
Sumber
: General Services Laboratory, PT. Arun NGL (Juni 2014)
3.5 Proses-proses dikilang LNG Arun
Kilang
LNG Arun memiliki puluhan unit-unit utama dan pendukung, yang dimulai dari unit-unit
di inlet Facilities sampai dengan unit-unit dibagian pengapalan (loading).
Secara
umum tugas dari proses dikilang LNG Arun, adalah sebagai berikut
- Menerima
gas dan condensat dari point-A (Lhoksukon) dan ladang NSO
- Memurnikan
dan mengolah feed gas menjadi produk LNG sesuai spesifikasinya
- Menyimpan
dan mengapalan produk LNG dan condensat
3.5.1 Inlet facilities
Area
fasilitas Proses pemipaan, pertama sekali menerima gas dan kondensat. Proses
condy, terdiri dari beberapa unit, yaitu :
- Unit
14 = Unit pemipaan fuel make
up
- Unit
15 = Unit pemipaan
kondensat
- Unit
16 = Unit old condensat
line
- Unit
17 = Unit pemipaan feed
gas
- Unit
18 = Unit pemipaan gas ke
national project
- Unit
19 = Unit pengiriman gas
untuk pabrik pupuk National Project
Unit-unit
lain di Inlet Fasilities antara lin adalah:
3.5.1.1 Unit 20 A (first stage)
1st
stage flash drum ini telah mengalami modifikasi disebabkan oleh feed gas
declining dan perubahan komposisi feed gas dari Point-A ke Point-B serta adanya
tambahan supply feed gas (sales gas) dari SRU plant. Keempat 1st
stage drum ini difungsikan, sebagai berikut :
- D-2001
A = 16”SlS ReBOG pipeline
sebagai fuel make up ke unit 75
- D-2001
B = Menerima sales gas dari
SRU via Unit 26
- D-2001
C&D = Menerima feed gas dari
Arun Field-Lhoksukon
3.5.1.2 Unit 20B (Condensat Recovery Unit)
Menerima
dan menstabilkan kodensat yang dialirkan langsung dari point-A, SRU plant dan
unit fraksinasi dari bottom debutanizer Unit 5X.
3.5.1.3 Unit 5X (fractionation/refrigerant preparation)
Refrigeration
preparation unit 5X terdiri dari dua unit fraksinasi yang identik yaitu unit 51
& 52. Unit ini mengambil feed liquid dari scrub tower bottom ditrain dan
deethanizer bottom di LPG plant. Unit ini menghasilkan ethane, propane dan
butana sebagai pemasok komponen-komponen proses ditrain-train LNG, yaitu Multi
Component Refrigerant (MCR).
3.5.2
Sulfur Recovery Unit (SRU) Plant
Unit-unit yang ada di SRU plant, adalah
sebagai berikut :
§
Unit 27 = Sulfinol Gas Treating Unit
§
Unit 28 = Sulphur Recovery Unit
§
Unit 29 = Tail Gas Unit
§
Unit 59 = Sulfur Pelletizing Unit
§
Unit 22 = Oxigen Plant Unit
Gambar
3.1 : Diagram Interaksi Antar Unit di SRU Plant
3.5.2.1 Uraian umum SRU
plant
Penyerapan terhadap gas dari offshore dilakukan
dengan alasan:
- Pertimbangan
Safety dan Environmental yaitu:
-
H2S gas yang sangat beracun
dan korosif sementara CO2 akan membeku pada unit liquefaction
-
Mengurangi SO2
emisi-lingkungan (Amdal)
- Pertimbangan
kemampuan Absorbsi di LNG train, yaitu :
-
Agar komposisi CO2 dan H2S
mendekati sumber gas dari point-A
- Pertimbangan
Ekonomi, yaitu :
-
H2S dikonversi menjadi produk
Sulfur
-
CO2 reducing, menaikkan nilai
kalor dalam Acid gas
-
Bisa menambah jumlah gas umpan ke LNG
plant
3.5.2.2 Unit 27-Sulfinol Treting Unit (STU)
Fungsi
Sulfinol Treating Unit (Unit 27), yaitu:
- Treating
Unit menerima sour gas 460 mmscfd dari offshore
- Mengabsorbansi
sour gas menjadi sales gas
- Mengirim
sales gas, 410 mmscfd ke LNG plant
- Menstrip
Condensat dan mengirim ke LNG plant
- Meregenerasi
larutan sulfinol sebagai media pengerap kembali
- Memisahkan
CO2 dari rich sulfinol, CO2 dikirim ke Thermal
Oxydizer
- Mengirim
acid gas ke Unit SRU
Target: Unit STU mampu menyerap H2S
hingga 97,7%
Tabel 3.5 Hasil penyerapan H2S dan CO2
di STU
Impurities component
|
Offshore Gas
|
After SRU Treating
|
H2S
|
1,5%
|
0,024% (240 ppm)
|
CO2
|
33,0%
|
25%
|
Tabel komposisi feed gas
dan sales gas dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 3.6 Komposisi feed gas dan sales gas
Komponen
|
Sour Feed Gas
Ke Kilang SRU Plant
|
Treated Gas
Ke LNG Train
|
C6+
(% Mol)
|
0,195
|
0,097
|
N2 (%
Mol)
|
0,736
|
0,880
|
C1 (%
Mol)
|
61,220
|
69,727
|
CO2 (%
Mol)
|
33,255
|
25,386
|
C2 (%
Mol)
|
2,508
|
2,764
|
H2S (%
Mol)
|
1,067
|
0,016
|
C3 (%
Mol)
|
0,608
|
0,690
|
i-C4 (%
Mol)
|
0,143
|
0,158
|
n-C4 (%
Mol)
|
0,153
|
0,168
|
i-C5 (%
Mol)
|
0,068
|
0,070
|
n-C5 (%
Mol)
|
0,047
|
0,044
|
TOTAL
|
100,00
|
100,000
|
HHV BTU/SCF
|
|
790,3
|
3.5.3 SRU Booster Unit, Unit
26
Gas
alam yang keluar dari Unit 27, SRU plant, adalah gas yang komposisi
hidrokarbon-nya mirip dengan feed gas yang akan diolah di treating unit (Unit
3X). Tetapi gas ini masih bertekanan dan bersuhu rendah, juga masih menyisakan
banyak kandungan senyawa H2S dan CO2. Dengan demikian,
maka diperlukan suatu unit untuk menaikkan tekanan dan suhu agar feed gas ini
dapat dicampur dan dialirkan bersama-sama dengan feed gas yang berasal dari
point-A yang bertekanan tinggi, untuk selanjutnya dialirkan ke proses
berikutnya.
Feed
masuk ke Unit 26 melalui pipa 24” dan selanjutnya dinaikkan tekanannya di
Booster Compressor, K-2601, yang memiliki dua tingkat dan digerakkan oleh
tenaga turbin gas, KGT-2601. Aliran outlet (discharge) 1st stage
compressor K-2601 yang bertekanan sedang, diinginkan di inter cooler EM-2601 (6
buah fin fan) dan aliran discharge 2nd stage K-2601 yang bertekanan
tinggi, didinginkan di after cooler EM-2602 (6 buah fin fan) selain untuk
keamanan K-2601 saat terjadi gangguan aliran (surge).
Setelah EM-2602, feed gas dialirkan ke Reheater E-2603
dengan media pemanas steam yang bertujuan untuk menjaga suhu feed agar H2S
yang masih terkandung didalamnya tidak terkondensasi setelah keluar dari Unit
26 dan dialirkan ke unit berikutnya.
Oleh karena lokasi pengiriman dari Unit 26 ke unit
berikutnya relatif jauh, maka untuk menjaga agar panas feed gas ini tetap
selama mengalir didalam pipa transfer, selain diberi isolasi, pipa juga dilengkapi
dengan steam-coil, yaitu tube yang dialirkan steam dan dililitkan secara spiral
sepanjang pipa transfer.
Interaksi
unit-unit/sistem-sistem yang berhubungan dengan Unit 26, dapat dilihat pada
gambar 3.2 berikut
Feed Gas to Train
Z
raTra
|
Utilities
Sect. (SWAN Facilities)
|
FSHE
Sect. (Safety & Fire Protection Facilities)
|
Gambar 3.2 Interaksi unit
booster (Unit 26)
3.5.4
Proses kilang LNG
Proses
kilang lng meliputi sistem pemurnian gas (gas treating symtem) dan sistem
pencairan (liquefaction). Selain itu, feed gas (NGL) dimasukkan ke proses
pemisahan/separasi C2+ (LPG Plant) untuk mengurangi nilai
kalor (BTU).
3.5.4.1 Sistem Pemurnian Gas (Gas Treating System)
Unit
3X ini berfungsi untuk memisahkan impurities (CO2, H2S,
Hg dan hidrokarbon berat) dari dalam feed gas. Merkuri (Hg) diadsorpsi oleh
karbon aktif yang diperkaya dengan sulfur dan membentuk HgS dalam carbon bed
adsorber (mercury adsorber). Sedangkan karbondioksida (CO2) dan
hidrogen sulfida (H2S) dihilangkan dengan proses absorbsi pada
carbonate absorber dan dilanjutkan di DEA absorber (sistem ini dikenal dengan
nama Benfield High Pure System).
Gas dari inlet fasilities unit
diturunkan tekanannya melalui sebuah kerangan penurun tekanan dan memasuki feed
gas knock out drum. Hidrokarbon yang terkondensasi dari gas, dikembalikan ke
second stage flash drum dicondensat recovery unit. Pengurangan cairan
hidrokarbon perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya foaming pada aliran
proses.
Proses
penyerapan merkuri (Hg)
Setelah relatif bebas dari hidrokarbon cair,
gas kemudian dialirkan masuk ke exchanger, E-3X01B, dengan media pemanas aliran
lean carbonate agar mencapai suhu optimal penyerapan merkuri berikut (±800C).
Suhu yang terlalu tinngi dapat menyebabkan kerusakan/rengkahnya sulphur
activated carbon pada mercury adsorber. Suhu rendah, mengakibatkan proses
penyerapan merkuri tidak maksimal.
Gas
yang telah dipanaskan masuk melalui dua buah carbon bed adsorber (mercury
absorber), yang bertujuan untuk menghilangkan kandungan merkuri. Merkuri dalam
jumlah kecil bereaksi dengan sulfur dan membentuk merkuri sulfida yang
diadsorbsi ke karbon aktif yang diisikan ke dalam carbon bed absorber tersebut.
Merkuri dipisahkan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya korosi dalam
tubing dan pipa-pipa aluminium dan diharapkan usia dari setiap karbon aktif
tersebut sekitar lima tahun.
Gas
memasuki adsorber melalui top dan selanjutnya mengalir kebawah (carbon bed)
dikontak-kan dengan butiran–butiran sulphur activated carbon. Kandungan merkuri
dalam feed gas akan diikat oleh sulfur dan selanjutnya diserap dalam pori-pori
carbon aktif.
Hg + S HgS
Setelah melewati bawah bed, gas
meninggalkan absorber melalui sebuah gauge strainer besar kedalam pipa outlet
utama dan dialirkan menuju sistem carbonat (Carbonat absorber).
Proses
penyerapan CO2 & H2S dengan larutan karbonat
Setelah
meninggalkan carbon bed adsorber, gas dipanaskan lebih lanjut pada second feed
carbonate exchanger. Gas yang telah dipanaskan kemudian masuk ke bagian bawah
carbonat absorber. Sistem distribusi pada inlet mengarahkan gas ke arah atas
melalui absorber. Gas bersentuhan dengan aliran kalium karbonat (K2CO3)
yang turun ke bawah. Dalam kondisi ini karbonat Dioksida (CO2)
didalam gas berkurang sampai dibawah 1% dan hidrogen sulfida (H2S)
diharapkan bisa terserap hingga 100% oleh larutan karbonat yang dicampur
sedikit diethanol amine (DEA), kemudian gas didinginkan didalam fin-fan cooler
sebelum memasuki DEA absorber.
Gas
denagn suhu 1070C dan tekanan %0,2 kgf/cm2 masuk ke
carbonate absorber. Sebelumnya, saluran 20” tersebut dipencar menjadi dua
saluran 14”, hal ini untuk membantu distribusi gas internal. Gas lewat ke atas
melalui absorber dan bersentuhan dengan dua arus aliran larutan karbonat yang
mengalir turun ke bawah, ketika meninggalkan lower bed naik melalui sebuah
upper bed. Selanjutnya gas menuju ke atas melalui dua liquid distribution
trays. Hal ini untuk mencegah carry over larutan dengan gas, sehingga gas pada
kondisi ini telah melepaskan sebagian besar CO2 melalui sebuah
demister dan meninggalkan puncak absorber. Tekanan gas ketika meninggalkan
absorber adalah sekitar 49,8 kgf/cm2 dan suhu 900C.
Fungsi dari carbonat absorber adalah
untuk memisahkan CO2 dan H2S yang terdapat didalam feed
gas yang dapat mengganggu atau merusak peralatan-peralatan pabrik. Dimana gas
CO2 akan membeku pada suhu yang sangat rendah sehingga menyebabkan
pemampatan pada pipa-pipa atau tube-tube yang terdapat pada alat pencairan gas
alam. Sedangkan H2S merupakan gas racun yang sangat korosif
terhadap peralatan-peralatan yang ada pada pabrik. Oleh karena itu kedua
komponen ini harus dihilangkan dari dalam feed gas.
Sirkulasi cairan karbonat
Larutan
lean carbonate yang bebas CO2 dan H2S dipompakan dari
pump carbonate regenerator oleh dua set pompa yang dipasang secara seri pada
carbonat absorber. Larutan dari aliran total memasuki bagian bawah absorber dan
selebihnya 25% didinginkan terhadap feed gas yang masuk kedalam feed/lean
carbonate exchanger sebelum memasuki bagian atas absorber, tujuannnya untuk
memperbaiki penyerapan CO2 lebih lanjut.
Larutan
karbonat kemudian turun kebagian bawah absorber dan bersentuhan dengan gas yang
mengalir ke bagian atas. CO2 dan sedikit H2S diserap oleh
larutan karbonat, dimana terjadi reaksi eksterm (menghasilkan panas) dan
merubah larutan kalium karbonat menjadi larutan kalium bikarbonat.
§ Reaksi
penyerapan CO2 adalah sebagai berikut:
CO2 + H2O + K2CO3 2KHCO3
§ Reaksi
penyerapan H2S adalah sebagai berikut:
H2S + K2CO3 +
KHS 3KHCO3
Larutan rich carbonate
kemudian mengalir dari abgian bawah absorber melalui level and let-down control
valve ke bagian atas carbonat regenerator. Gas-gas yang bersifat asam dan uap
air dari puncak regenerator didinginkan didalam regenerator overheat
accumulator dan cairannya dipompakan kembali ke regenerator sebagai reflux
(sebagian dari cairan juga dipompakan ke DEA regenerator sebagai wash tower),
kemudian kelebihan air dialirkan ke saluran buangan oily water.
Larutan
karbonat yang mengalir turun pada kolom melewati tiga packing bed yang berisi
stainless steel pall rings, kemudian dilewatkan secara gravitasi melalui sebuah
chimney tray draw off ke carbonat regenerator. Pengisian pertama larutan
karbonat dengan tambahan DEA dan kalium bikarbonat dibuat di dalam sebuah pump
dan telah diaduk sebelum ditambahkan kedalam sistem. Penambahan ini berfungsi
untuk menggantikan kehilangan larutan karbonat pada saat diregenerasi dari CO2
dalam kolom carbonat regenerator.
Proses penyerapan CO2 & H2S
(sisa) dengan larutan DEA (tanpa D-3X09)
Aliran
gas yang masuk dari bagian atas carbonate absorber, setelah didinginkan di dalam
fin-fan cooler memasuki bagian bawah DEA absorber. Gas didistribusi ke atas
melalui sebuah demister ped, setelah itu melalui sebuah chimney tray, lalu ke
bagian utama kolom. Gas dikontakkan dengan larutan lean Dea yang mengalir turun
melalui absorber. Dengan proses pembersihan dan penyerapan ini, kandungan CO2
dalam aliran gas diharapkan berkurang sampai 50 ppm. Fungsi dari sistem ini
adalah untuk menyerap CO2 dan H2s yang masih tersisa
didalam gas umpan.
Proses
absorbsi pada DEA sistem adalah proses penyerpan CO2 dan H2S
dengan memakai dua bed pall ring sebagai kontraktor. Reaksi yang terjadi
adalah:
§ Pada
H2S :
2R2NH + H2S (R2NH2)2S
Lean DEA + Hidrogen Sulfida Unsaturated rich DEA
§ PADA
CO2 :
2R2NH + H2S + CO2 (R2NH2)2
CO3
Unsaturated Lean DEA + air + carbondioksida rich DEA
Reaksi
ini dapat dicapai pada tekanan tinggi dengan suhu rendah. Batas maksimum CO2
dan H2S yang diizinkan dalam gas umpan yang keluar dari DEA
absorber adalah 40 ppm dan 3 ppm. Gas yang telah dibersihkan melaui sebuah
demister keluar melalui puncak absorber yang melewati fin-fan cooler untuk
diingikan sebelum memasuki treated gas
wash tower.
Sirkulasi cairan DEA
Cairan Lean DEA keluar dari bagian bawah regenerator
DEA melalui sebuah vortex breaker. Cairan lewat secar gravitasi melalui tiga
lean/rich DEA exchanger sebelum memasuki suction pompa lean DEA. Suhu fin-fan
coolr dikonrol melalui sebuah lean DEA cooler kedalam puncak absorber. Maksud
dari pengontrolan suhu ini adalah untk mendapatkan penyerapan yang terbaik di
dalam DEA aborber. Air dan Hidrokarbon yang terkumpul pada bagian bawah
absorber ditunjukka oleh level gleses, air yang sedang dipisahkan diatur dengan
level control, sedangkan hidrokarbon keluar secara manual ke scond stage fles
drum di condensate recovery unit. CO2 dan H2S yang
terserap dilepaskan dari larutan rich DEA
ketika larutan itu mellui kolom. Kemudian larutan rich DEA yang keluar melalui bottom regenerator
melalui sebuah chymnei tray mengalir kedala steam reboiler. Di dalam reboiler ,
DEA mengalir melewati sebuah internal weir. Internal weir ini berfungsi untuk
menjaga level cairan tetap diatas tube bundle. Larutan DEA kemudian mengalir ke
bagian DEA regenerator dan siap untuk disirkulasi kembali.
Treated gas wash tower
Gas
yang telah diolah dari DEA absorber memasuki wash tower dibagian tengah. tower
ini berfungsi berfungsi sebagai pembersih untuk memisahkan hidrokarbon yang
terkondensasi setelah pendnginan. Gas umpan kemudian disiram dengan high
pressure water untuk mencegah terikutnya larutan DEA ke dalam gas umpan sebelum
dikirim ke unit 4X.
Cairan dalam wash tower mengalami pemisahan
pada lapisa air bagian bawah dan lapisan hidrokarbon bagian atas, setelah itu
gas tersebut melewati buble cap trays dan sebuah demister sebelum meninggalkan
wash tower dan mengalir ke unit 4X.
3.5.4.2 Sistem pencairan gas ( Liquefaction ),
unit 4X
Unit
ini merupakan bagian pencairan gas pada kilang PT.Arun. unit 4X ini di desain
untuk menerima gas alam Yang telah
diolah dari unit 3X. Fungsi dari unit ini adalah untuk memisahan sisa kandungan
air dalam gas, dan mendinginkan gas sampai suhu mengalami perbahan fasa menjadi
cair yaitu pada suhu -1620C dengan menggunakan media pendingin .
Multi compent Refrigerant (MCR) yang dikenal
sebagai refrigeration system, setelah itu LNG yang dihasilkan dikirim ke tangki
LNG di unit 60. Refrigeration system yang dibutuhkan disuplai oleh dua
rangkaian tertutup dan berdiri sendiri, yaitu propane dan campuran MCR, sedangkan
propane sendiri diinginkan oleh air laut. Selain mendinginkan dan
mengkondensasi gas yang telah diolah, propane juga mendinginkan dan
mengkondensasi MCR. MCR merupakan campuran komposisi methane, ethane, propane,
dan nitrogen.
Feed
gas yang keluar dari system pemurnian yang telah bebas dari impuritis, masuk ke
proses pencairan (Unit 4X) yang meliputi :
§ Seksi pengeringan ( dehydration section).
§ Seksi
pemisahn ( scrubbling suction).
§ Seksi
pendinginan dan pencairan (refrigerant and liquefaction section).
Seksi pengeringan (dehydration section)
Seksi
ini berfungsi untuk memisahkan uap air yang terbawa masuk kedalam seksi
pemisahan dan pencairan, dimana uap air dapat menimbulkan penyumbatan pipa-pipa
aliran gas pada unit-unit yang beroperasi pada suhu rendah dan lebih berbahaya
lagi bisa mengakibatkan pecahnya
tubing-tubing di dalam ( MHE).
Proses
adsorbsi berlangsung di dalam feed vapor dryer yang terdiri dari dua drum dryer
(A dan B ) yang dipasang secara paralel dan beroperasi masing-masing selam 8
jam secara bergantian. Dalam keadaan operasi normal, jika pada 8 jam pertama
dryer A dalam kedaan drying maka dryer B pada saat yang sama diregenerasikan
untuk mengaktifkan kembali moleculer sieva yang telah menyerap air selama 8 jam
. sebelumnya uap air dalam gas keluar
dari feed vapour dryers ( V-4X01 A/B ) dan dianalisa oleh AR-4X04.Jika feed gas masih mengandung air
lebih besar dari 0,5 ppm, maka gas sebelum dapat dialirkan ke scrubbing
suction. Namun bila kandungan air keluaran dryer telah mengizinkan, gas dialirkan
ke E-4X09 untuk didinginkan oleh propane cair sehingga -70C dan
setelah pendinginan gas masuk ke scrub tower.
Seksi pemisahan fraksi berat (scrubbing section)
Fungsi seksi ini adalah untuk
memisahkan hidrokarbon berat yang terdapat dalam feed gas yang dapat
menyebabkan penyumbatan tube-tube dalam MHE yang beroperasi pada suhu rendah.
Feed gas dari seksi
pengeringan terdiri dari campuran hidrokarbon yang mempunyai titik didih yang
berbeda, maka dalam scrub tower ini dipakai prinsip
Distilasi. Didalam scrub tower, fraksi
hidrokarbon dipisahkan berdasarkan perbedaan titik didih karena feed gas dari
seksi pengeringan terdiri dari campuran hidrokarbon yang mempunyai titik didih
yang berbeda. Feed gas terlebih dahulu didinginkan dalam feed medium propane
exchanger. Akibatnya hidrokarbon berat akan terkondensasi dan mengalir ke
bottom tower dan dialirkan ke refrigerant preparation unit untuk memperoleh
ethane dan propane yang dibutuhkan dalam proses pencairan nanti. Sedangkan
fraksi ringan dengan komposisi dominan adalah methane, akan keluar melalui
puncak tower dan kemudian didinginkan dengan propane liquid pada kondenser,
sebelum dimasukkan kedlam separator.
Akibat
pendinginan propane dan ethane yang terikut akan terkondensasi dan cairan ini
sebagian akan dikembalikan ke scrub tower sebagai refliks. Residu gas dari unit
separation yang mengandung 97% methane dialirkan ke unit pencairan (MHE) dan
untuk kebutuhan komposisi MCR juga diambil disini.
Seksi pendinginan dan pencairan (refrigerant and
liquefaction section)
Fungsi
dari unit ini adalah untuk mencairkan dan menurunkan tekanan feed gas. Sistem
pendinginan pada uint ini dilakukan secara dua tahap, yaitu :
- Pendinginan
menggunakan propane refrigerant, selian itu propane juga digunakan untuk
mendinginkan MCR (Multi Component Refrigerant) dan sebagai bahan pendingin
selanjutnya.
- Pendinginan
menggunakan MCR, dimana gas alam didinginkan hingga -162ºC
sehingga terjadi perubahan fasa dari gas menjadi cair.
Sistem Propane (Propane refrigerant)
Sistem
propane refrigerant menyuplai refrigerant (coolant) ke aliran feed gas. Sistem
ini menyuplai coolant ke rangkaian MCR. Uap propane didinginkan didalam
rangkaian dari propane desuperheaters. Uap kemudian dikondensasi di dalam
propane condenser, setelah itu dialirkan kembali ke section drum untuk
masing-masing tingkat sebagai pengontrol anti surge. Propane yang terkondensasi
dari kondenser selanjutnya memasuki dasar dari propane accumulator. Sebuah
scrubber dan sebuah condenser dipasang pada puncak akumulator. Media
pendinginan condenser ini adalah propane cair dari cairan didasar accumulator.
Fungsi
dari bagian puncak adalah untuk membuang gas-gas ynag tidak dapat
dikondensasikan ke udara dan ethane dari sistem refrigerant.
Tiga aliran propane cair diambil dari
aliran utama, satu ke shell side dryer reactivation chiller, yang kedua ke
shell side molecular sieve precooler, sedangkan yang ketiga ke shell side high
pressure propane exchanger untuk mendinginkan MCR. Uap-uap dari ketiga
exchanger semua dikembalikan ke high pressure suction drum. Aliran propane cair
yang berasal dari high pressure suction drum disuplai ke shell pada medium
pressure propane exchanger, proses ini dapat berfungsi untuk mendinginkan MCR
yang menuju ke MCR separator. Uap dari exchanger ini kembali ke medium pressure
suction drum dengan level terkontrol.
Main Heat Exchanger, E-4X18
Main
exchanger dibagi atas dua bagian yaitu bundle yang hangat pada dasar dan bundle
yang dingin pada puncak. Gas yang memasuki exchanger berada pada suhu -30ºC dan
tekanan 45 kgf/cm2 , sedangkan gas yang meninggalkan exchanger
bersuhu sekitar -146ºC dan tekanan 36,6 kgf/cm2. Pada kondisi
seperti ini sudah disebut sebagai LNG.
Tekanan LNG ketika meninggalkan
exchanger diturunkan dari 36,6 kgf/cm2 , sehingga suhu gas pada
kondisi ini turun hingga mencapai -162ºC pada saat memasuki product drum. LNG
dipompakan ke sistem penyimpanan LNG dengan level terkontrol, gas yang
menyembur dari puncak drum diuapkan lebih lanjut didalam feed/reject gas
exchanger. Penguapan ini dilakukan oleh 5% feed gas dari cabang scrub tower
separator sehingga gas ini mengalir ke section fuel gas compresor.
Sistem Multi Component Refrigerant (MCR)
MCR
adalah media yang dipakai untuk mendinginkan feed gas menjadi LNG di dalam Main
Heat Exchanger, E-4X18. MCR terdiri dari methane, ethane, propane dan nitrogen.
MCR tersebut dikompresi oleh first stage MCR compresor, dimana dischange first
stage akan menjadi suction pada second stage MCR compresor berikutnya, yang
sebelumnya dilewatkan dalam inter cooler untuk didinginkan, dengan media
pendingin air laut. Kemudian dischange dari second stage MCR compresor ini,
didinginkan dengan fin fan coolers, sea water coolers dan chiller-chiller high
level, medium level, dan low level, sehingga akan dihasilkan MCR liquid dan
vapor yang bertekanan tinggi dan bersuhu rendah.
Uap ethane dan propane yang terkndung dalam MCR ini akan terkondensasi, sedangkan nitrogen dan metana
tetap berupa uap. Kemudian MCR tersebut ditampung dalam separator, sehingga
akan didapatkan dua jenis MCR, yaitu MCR liquid dan MCR vapor.
Selanjutnya bersama-sama dengan gas umpan yang keluar dari top scrub tower
accumulator, kedua jenis MCR ini (MCR vapor dan MCR liquid)
dialirkan ke tube-tube di bottom
MHE. Di MHE, tube-tube ini terpisah satu sama lain dalam bentuk bundle
tube. MHE ini berukuran besar di bagian bawah yang disebut warm bundle
section, dimana pada seksi ini berisikan: feed gas tubes
bundle, MCR liquid bundle dan MCR vapour tubes bundle. Sedangkan bagian atas dari MHE agak kecil, yang disebut cold
bundle, dimana pada seksi ini hanya berisikan: feed gas tube bundle
dan MCR vapor tubes bundle saja.
Setelah
melalui warm bundle, MCR liquid ini dialirkan melalui ekspansi valve ke bagian shell side
MHE, yang mengakibatkan penurunan tekanan dan temperatur. MCR liquid
dibagian shell side MHE ini ditampung dalam internal separator
dan kemudian dialirkan ke distributor valve, untuk di
spray kan ke bagian luar dari tube-tube yang ada pada bagian luar warm
bundle ini, sehingga gas umpan dan MCR vapor yang ada dalam tube-tube
tersebut akan mengalami pendinginan dan seterusnya mengalir ke bagian cold
bundle.
Setelah
melalui cold bundle, MCR vapor ini dialirkan melalui ekspansi valve ke shell side MHE, yang menyebabkan penurunan tekanan
dan temperatur yang jauh lebih rendah lagi, sehingga sebagian dari MCR vapor
tadi akan mengalami kondensasi.
MCR
vapor yang telah berubah menjadi liquid ditampung di dalam internal separator dan kemudian
dialirkan melalui distributor valve untuk di
spray
kan sehingga akan mendinginkan
lagi gas umpan dan MCR vapor yang ada dalam tube-tube tadi.
Setelah melalui tahapan pendinginan ini gas umpan yang keluar
dari top MHE ini akan mencapai
temperatur cairnya yang disebut LNG. Sedangkan MCR liquid dan MCR vapor
yang sudah mengalami ekspansi yang
disertai dengan penyerapan panas dari gas umpan, akan kembali mengalir ke
suction drum first MCR
compressor. Demikian
seterusnya sehingga fluida MCR tersebut bersikulasi. Berikut blok diagram proses pengolahan gas alam di PT.
Arun NGL.
Gambar 3.3 Blok diagram proses pengolahan gas alam di
PT.Arun NGL
3.5.5 Separator and
recompression (residue gas compressor) unit, Unit 5U
PT.Arun
NGL mempunyai tiga train unit pemisah LPG, yaitu: Unit 55, 56 dan 57 (Unit 57
sekarang udah dimodifikasi menjadi unit 26). Unit 55 dan 56 adalah serupa dan
disebut sebagai Unit 5U. selanjutnya pembahasan mengenai prosesnya akan
dituliskan sebagai Unit 5U.
Feed gas yang siap dicairkan diproses pencairan (MHE, Unit 4X) dialirkan
ke Unit 5U, yaitu unit yang memisahkan komponen-komponen LPG, agar
komponen-komponen tersebut (C2, C3, C4, &
C5+) yang mempengaruhi jumlah kalori dan dapat merusak
spesifikasi produk LNG, dilepaskan. Tapi tidak semua feed gas train dialirkan
melalui unit 5U.
Sisa gas (gas residu, dominan C1) yang sudah di-rekomposisi,
yaitu outlet dari Unit 5U, dialirkan lagi ke proses pencairan (MHE, Unit 4X).
Sedangkan cairan yang sudah dipisahkan di Unit 5U, dialirkan ke Unit 51 dan 52
(condensate recovery unit), untuk kembali diolah dan digunakan sesuai dengan
fungsinya.
Train yang feed-nya dialirkan melalui Unit 5U
disebut dalam posisi LPG mode dan yang tidak berhubungan, disebut dalam posisi
LNG mode. Inlet feed gas Unit 5U yang ebrasal dari system scrubbing Unit 4X
disebut Scrub Tower Overhead Vapor (STOV), sedangkan feed gas yang keluar dari
Unit 5U dan dikembalikan ke Unit 4X (Proses pencairan) disebut gas residu. Selain
STOV, system scrubbing Unit 4X juga mengirim cairan dari bottom accumulator
D-4X11 ke Unit 5U yang disebut Scrub Tower Overhead Liquid (STOL). Tidak
seperti halnya aliran STOV yang dikirim terus menerus (kontinyu), STOL dikirim
bilamana pada bottom accumulator D-4X11 banyak terakumulasi cairan hidrokarbon
berat yang sudah melebihi aliran normal reflux ke scrub tower.
Prinsip Proses di Unit 5U
Feed yang dialirkan ke Unit 5U
berasal dari Scrubbing system Unit 4X. cairan dipisahkan dari aliran gas dengan
mendinginkannya, kemudian memisahkan cairan kondensat dan menstabilkannya
dengan cara melepaskan produk ringan. Penurunan tekanan dan pertukaran panas
dipergunakan untuk mendinginkan gas. Suatu unit fraksionasi dipergunakan untuk
menstabilkan cairan yang terpisah. Pertukaran panas di unit pemisahan LPG lebih
banyak terjadi di Cold Box E-5U01.
Gas yang telah
dipisahkan dari cairan kemudian dipampat ulang dan suhunya diturunkan dan
selanjutnya dialirkan kembali ke Unit 4X, yang berefek beban proses pencairan
di Unit 4X lebih ringan. Sebagai catatan, perbedaan Unit 4X dalam posisi LPG
atau LNG mode adalah tekanan feed sebelum masuk ke MHE hasil LPG mode lebih
tinggi dari LNG mode, sedangkan suhu hasil LPG mode lebih rendah dari pada LNG
mode.
BAB IV
SEAL
4.1 Pengertian
Seal
adalah suatu
part/bagian dalam sebuah konstruksi alat/mesin yang berfungsi untuk sebagai
penghalang/pengeblok keluar/masuknya cairan, baik itu fluida proses maupun
pelumas.
4.2
Klasifikasi Seal
Secara umum seal dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1.Static Seal : - Gasket
- Other static Seal
2.Dinamic Seal : - Mechanical packing / Gasket
- Mechanical Seal
4.3
Static Seal
Berfungsi untuk
menahan kebocoran fluida diantara dua permukaan yang relative tidak bergerak
satu sama lain. Namun demikian juga dirancang untuk dapat menerima gerakan yang terbatas
sehingga disebut sebagai : Fleksibel (static) seal atau pseudo static
seal. Yang
termasuk Static seal adalah: O-ring seal, gasket
dan liquid gasket.
4.3.1 Gasket
Gasket adalah salah satu jenis seal
yang banyak digunakan pada celah yang kecil pada komponen yang diam.
Beberapa tempat yang menggunakan gasket misalnya antara cylinder head
dan block , antara block dan oil pan.
Permukaan yang memakai gasket
harus rata, bersih, kering dan tidak ada goresan.
4.3.2 O-rings
O-ring adalah
bentuk cincin yang sangat lunak yang terbuat dari bahan alami atau karet synthetic
atau plastik. Dalam pemakaianya O-ring biasanya dikompres antara
dua permukaan sebagai seal, O-ring sering digunakan
sebagai static seal yang fungsinya sama dengan gasket.
Untuk penyekat pada aplikasi yang bertekanan tinggi di atas 5500 kPa (800
psi) sering O-ring ditambahkan dengan back-up ring untuk
mencegah kebocoran yang ditimbulkan oleh adanya celah antara dua permukaan. Pressure
back-up ring biasanya terbuat dari bahan plastik yang berfungsi untuk
memperpanjang usia O-ring. Pada saat pemasangan O-ring seal,
yakinkan semua permukaan bersih dari kotoran dan debu. Periksa O-ring seal
dari kotoran, debu, goresan (screth) dan cacat lainya yang akan
menyebabkan kebocoran.
4.3.3 Pemilihan Seal
(gasket/O ring)
Pemilihan Seal
(gasket/O ring) akan dipengaruhi oleh :
1.
Kondisi Operasi (tekanan dan temperature
fluida).
2.
Jenis fluida yang disekat (gas,cairan
dan udara yang bersifat :korosif ,beracun, flammable dsb,)
3.
Bentuk permukaan yang akan disekat.
4.3.4 Persyaratan
Material Gasket
Disamping itu sebagai
bahan gasket/packing harus memenuhi persyaratan antara lain :
1.
Tahan terhadap chemical dan tahan
terhadap pengaruh cuaca.
2.
Tidak beracun(toxic)
3.
Tahan tehadap tekanan kompresi.
4.
Mampu menyesuaikan diri dengan mengisi
permukaan yang disekat.
5.
Tidak menibulkan kerusakan pada
permukaan yang disekat .
6.
Mudah di handle / dibentuk dan murah
harganya.
4.3.5 Bahan / Material
Gasket
Bahan / Material untuk
Gasket ada bermacam-macam dan pada umumnya masing-masing manufacture memilikki
standart dan spsifikasi yang berbeda.
Secara umum Gasket
terbuat dari :
1.
Plant fibre (serat Tumbuh-tumbuhan)
2.
Mineral(bahan tambang)
3.
Synthetic fibre (serabut-serabut
sintetis)
4.
Grapite yard / carbon
5.
Metallic
6.
Lubricant
4.4
Dinamic Seal
4.4.1 Oil Seal dan
hydraulic seal
1. Oil Seal
Pengertian sederhana dari oil seal adalah komponen
pada suatu mesin yang berfungsi menyekat pelumas. Pelumas digunakan pada
tempat-tempat dimana terjadi gesekan pada bagian mesin untuk memastikan pergerakkannya
menjadi halus dan umurnya menjadi panjang, dan oil seal digunakan untuk
mencegah terjadinya kebocoran pelumas yang lewat melalui “bearing clearance”
pada bagian yang bergerak tersebut.
Gambar 4.1 Oil Seal
pada Crankshaft
4.4.2 MEKANISME SEALING DARI OIL SEAL
Pada
suatu uji coba oil seal yang dipasang pada shaft yang berputar, kemudian diukur
gaya friction rotation nya dengan memutar shaft pada kondisi yang berubah-ubah
seperti pada gambar dibawah.
Gambar
4.2 MEKANISME SEALING DARI OIL SEAL
Tujuan pemasangan oil
seal adalah didasarkan atas pertimbangan :
1.
ekonomis
2.
safety / keselamatan
Tinjauan ekonomis
disebabkan :
1.
Fluida yang di handle mahal harganya (tidak terjadi kebocoran lewat
crankshaft)
2.
Down time penggantian oil seal
crankshaft berkurang.
3.
Penghematan power,karena friksi/hambatan
yang terjadi antara oil seal dengan crankshaft tidak ada.
Sedangkan tinjauan
terhadap safety :
1.
Bila produk yang di handle bersifat
toxic (beracun) dan membahayakan pekerja.
2.
Kemungkinan produk yang di handle
bersifat flammable (mudah terbakar).
Kedua hal tersebut
diatas dapat di hindari karena tidak
terjadi kebocoran lewat oil seal pada crankshaft.
BAB V
ANALYSIS AND INSTAL OIL SEAL
CRANKSHAFT
DIESEL DETROIT TYPE 53 INLINE
Pemakaian Oil Seal
dituntut :
1.
Biaya awal yang tinggi
2.
Tenaga yang skill untuk pemasangan oil
seal.
5.1
Analisa
Menurut Analisa yang dilakukan penulis berdasarkan acuan
buku PTT MIGAS pada Oil Seal crankshaft diesel Detroit type 53 inline maka trouble yang terjadi
adalah :
1.
Gejala yang tampak
Bagian
seluruh permukaan seal terdapat lumuran oli yang merembes dan menyebabkan
keausan yang sangat cepat.
2.
Disebabkan :
Dikarenakan
umur pemakaian oil seal sudah mencapai limit atau tidak layak pakai .
3.
Tindakan yang dilakukan
Harus
mengganti dengan oil seal yang baru.
Ada beberapa factor
yang harus di perhatikan dalam pemasangan oil seal yaitu :
1.
Crankshaft dan oil seal harus bebas dari
benturan dan kotoran .
2.
Oil seal dan crankshaft harus dalam
keadaan baik dan sesuai pada dudukan nya.
5.2
Langkah – langkah pemasangan
1.
Pasang kembali crankshaftnya dengan meletakkan
secara perlahan-lahan pada blok silinder.
2.
Pasang poros
crankshaft dengan kunci T (10) dengan baut 5 buah
3. Pasang piston
dan conecting rodnya dengan kunci SST piston ring compessor dan tekan dengan
palu plastik secara perlahan.
4. Pasang dudukan crankshaft dengan cara mamukul secara
perlahan selanjutnya pasang bautnya dengan menggunakan kunci T(12) dengan baut
10.
5. Pasang bearingnya dengan kunci T(12) dengan baut sebanyak
10 buah.
6. Pasang kembali pompa olinya dengan kunci T(10)
dengan baut 1 buah dan pasang pada bagian blok silinder.
7. Pasang kembali saringan olinya dengan kunci T(12) dengan
memasang bautnya 2 buah.
8.
Pasang kembali oil pan (carter) .
9. Lalu pasang cylinder
head dan camshaft .
10. Pasang rocker arm
dan injector beserta fuel injector control tube dan fuel line.
11. Setting top gear, sesuaikan dengan petunjuk yang ada pada gear.
12. Pasang cover
cylinder head .
13. Lalu pasang Blower dan
strainer .
14. Pasang cluth housing ,DLL
5.3
Faktor penyebab kerusakan oil seal
1. kesalahan handling and storage
- terbentur dengan benda yang lebih keras dari seal oil.
- tempat penyimpanan kotor,berdebu / lembab dengan paket
terbuka.
- tertindih barang yang berat
- disimpan dekat zat yang mudah korosive.
- disimpan ditempat terbuka (kena panas dan hujan)
2. kesalahan pemasangan
- terbalik pemasagan
- pemasangan tidak
pas pada dudukannya.
BAB VI
PENUTUP
Setelah mengikuti dan
mengamati secara langsung analisa dan pemasangan (install) seal crankshaft
diesel detroid type 53 inline,maka penyusunan laporan ini penulis mengambil
kesimpulan dan saran .
6.1
Kesimpulan
Sesuai dengan
judul “ANALYSIS AND INSTAL SEAL CRANKSHAFT DIESEL DETROID TYPE 53 INLINE” maka penulis mengambil kesimpulan
sebagai berikut :
1.
Mempunyai peranan yang sangat penting pada mesin tiap mesin
diesel di kilang LNG.
2.
Service engine secara berkala(ganti oli)
tepat waktu akan dapat meminimalisir kerusakan yang fatal pada oil seal dan
juga pada mesin ,sehingga dapat menekan biaya perawatan .
3. Dalam
pemasangan (install) seal harus sesuai petujuk.
6.2
Saran
Mengingat pentingnya seal dalam industry khususnya engine
diesel / engine gasoline , maka penulis menyarankan :
1.
System kerja yang telah dilaksanakan
dalam perawatan engine secara berkala agar tetap di jaga dan harus di
tingkatkan untuk meningakatkan efektifitas kerja suatu mesin.
2.
Pemasangan (install) oil seal yang benar
dapat menghindari kerusakan pada engine.